Wednesday, September 29, 2010

Bila Ragu Kita Bisa Buat Pesawat Sendiri



Pesawat Terbang Model dari Gabus Buatan Sendiri oleh Paul Thompson.




    Kini, PTDI serius mengkaji kelayakan Program N219. Alasannya adalah fakta di atas serta prakiraan bahwa dalam 15 tahun mendatang Indonesia butuh 250 pesawat jenis ini untuk mengganti pesawat-pesawat sekelas yang menua serta pertumbuhan armada. Dana program pengembangan N219 di bawah 200 juta dollar AS. Fase perancangan, pembuatan prototipe, uji coba, sertifikasi laik terbang, sampai akhirnya punya nilai komersial memerlukan waktu tiga tahun. Dengan perencanaan matang, analisis titik impas bisa tercapai pada penjualan unit ke-200. (Alexander Supelli, "Hilangnya Sebuah Generasi, Kompas, 19 Juni 2010)





Screenshot, Situs PT Dirgantara Indonesia

Litbang Penerbangan Indonesia
Ada Sejak 1914
(Klik gambar untuk melihat situs PT DI)
Almarhum Alexander Supelli pernah melemparkan tulisan berjudul "Hilangnya Sebuah Generasi" (Kompas, Sabtu, 19 Juni 2010). Di artikel itu, Sang Pilot Akrobatik mengungkapkan pengamatannya akan keraguan  sebagian dari kita terhadap kemampuan untuk membangun pesawat secara mandiri.

Kini, bila Anda kembali menemukan pribadi yang ragu terhadap kemampuan kita membangun pesawat, ada cara membalikkan pikirannya: segera ajak saudara tersebut membangun pesawat model yang betul-betul bisa terbang.

Lihat video di atas, sebagai salah satu contoh pesawat model tersebut. Contoh lainnya ada di sini, atau ini.

Jika sang saudara tadi akhirnya bisa menerbangkan pesawat model buatan sendiri, niscaya ia makin berani yakin Indonesia mampu membangun pesawat canggih secara mandiri. Upaya Anda meyakinkan lewat perdebatan, tak akan membuat ia mantap dengan keyakinan bahwa Indonesia bisa memajukan inovasi mandiri.

Ini bukannya sekedar lelucon, namun sesuai dengan hasil riset psikologi yang mengkaji hubungan kemantapan dan pengalaman. Dari sini terlihat kurangnya pengalaman nyata atau langsung -- barangkali karena mengenyam pendidikan di sekolah dengan fasilitas laboratorium minim -- bisa mendorong kita menjadi bimbang untuk mendukung litbang teknologi dan inovasi Indonesia.

Adalah Ben R. Newell dan sekelompok peneliti psikologi mengungkapkan bahwa kemantapan orang menetapkan pilihan sangat ditentukan oleh pengalaman jangka panjangnya sendiri. Di dalam risetnya, ia mengambil empat group relawan yang bertugas mengambil suatu keputusan dalam tenggat waktu berbeda.

Grup-grup ini diminta mengambil suatu keputusan empat cara: seketika, dengan waktu berpikir secukupnya, diberikan waktu merenung, serta berlama-lama mengambil waktu pertimbangan. Sebelum mengambil keputusan, seluruh grup harus melihat sodoran daftar tulisan pertimbangan baik dan pelbagai faktor kurang mendukung, untuk membuyarkan inti permintaan.

Kelompok peneliti ini tak hendak melihat jawaban pilihan benar atau salah. Sebetulnya, Newell sekedar menguji kaitan kualitas kemantapan/keyakinan terhadap suatu pilihan, bila dibanding panjangnya ketersediaan waktu berpikir.

Hasilnya cukup menarik. Newel mendapatkan mereka yang paling lama merenung justru cenderung yang paling sering mengambil keputusan paling berambang, berawuran, tak tentu arah karena bingung demi banyaknya masukkan. Kurangnya pengalaman dari "dalam", makin membuat orang makin gampang bimbang, tak bisa berjalan mantap.

Sebaliknya, orang dengan pengalaman cukup menghadapi masalah yang diajukan, tak gentar dengan sodoroan pertimbangan yang membingungkan. Dari hasil riset ini, Newel mengajak masyarakat untuk melihat bahwa pengalaman pribadi adalah bagian terpenting untuk mampu mengelola segala macam saran.

Tak kenal maka tak sayang. Tanpa pengalaman dengan teknik-rekayasa, orang mudah bimbang dengan ide inovasi.

Jadi, bila Anda menemukan ada yang ragu Indonesia mampu membuat pesawat terbang, maklumi saja bahwa itu tanda saudara/i tersebut memiliki pengalaman pribadi yang lemah dalam eksperimen pengetahuan ilmu alam/bidang teknik di sekolah. Bila Anda menemukan politisi atau pebisnis tak mendukung inovasi mandiri, ketahui saja itu tanda nyata ia sebetulnya kurang pengetahuan.

Kalau suka pengetahuan, kita pasti nyaman dengan ide Indonesia mandiri. :?)



Alexander Supelli (R.I.P. 27 September 2010)