Friday, September 10, 2010

Citarum, Bersama Los Angeles Raih Gelar Paling Berpolusi di Dunia

Huffingtonpost.com pada Agustus lalu menempatkan sungai Citarum bersama Los Angeles dan  sebagai salah satu tempat paling terpolusi di dunia. Sebetulnya, pemberitaan ini sudah ada sejak lama -- misalnya dari Media Inggris, the Daily Mail (2007).

Video Citarum sebagai sungai paling tercemar di dunia pun sering muncul di internet, seperti di sini dan sini. Biarpun media asing memberitakan seburuk itu, sebetulnya Citarum tak selalu berpolusi. Lihat saja foto-foto ini:







Hulu Sungai Citarum (2007)
Kharistya Amaru - Picasa


Hilir Citarum, Jakarta
Anuar Kamaruddin - blogspot.com*



Citarum adalah sungai terbesar di sebelah barat pulau Jawa, melintasi tiga provinsi, Baten, Jawa Barat, dan DKI Jakarta. Melintas sepanjang 350 km, pemerintah mengurus kondisi fisik sungai ini lewat Balai Besar Wilayah Sungai Citarum, Kementerian Pekerjaan Umum (PU).

Klik gambar di atas untuk melihat
laporan (PDF) UN-Water
"World's Top Ten Rivers at Risk"
UN-Water, badan kerja PBB yang khusus menangangi pencemaran air tawar, menyebutkan konstruksi fisik yang baik adalah bagian dari penanganan polusi. Semakin buruk infrastruktur area tempat tinggal suatu masyarakat, makin berat pula beban lingkungan muncul kala populasi penduduk berkembang makin pesat.

Upaya pemerintah mengelola tata fisik Citarum akan membuka jalan supaya kita bisa mengurangi polusi sungai indah tersebut. Ini bisa membuka pengertian mengapa UN-Waters (2010) tak menyebutkan nama Citarum sebagai bagian dari 10 sungai paling terancam di dunia -- mereka malah mengatakan Danube di Jerman sebagai salah satunya.

Kementerian PU sudah banyak bertindak untuk mengurusi aliran Sungai Citarum, yang melintasi berbagai Kabupaten. Tak hanya badan sungai, bahkan pemerintah juga mengurusi masalah hutan di Kabupaten Purwakarta yang menyokong hidupnya Citarum.

Lewat buku laporan kegiatan Balai Besar Citarum, 2007 - 2008, kita bisa tahu bahwa pemerintah mengelola Situ, Waduk, mata air, segala infrastruktur bagi Citarum. Agaknya, satu masalah besar yang sebetulnya mengganjal adalah masyarakat kita kurang terbiasa melakukan presentasi, termasuk dalam hal ketidakmampuan menjelaskan keberhasilan pengelolaan Citarum.

Asian Development Bank pernah mengedarkan reviu tentang kinerja Balai Besar Citarum tadi, pada 2008, tahun yang sama dengan lahirnya buku laporan yang disebutkan di atas. Laporan ADB tersebut menyiratkan secara jelas bagaimana para staf lembaga PU tadi tak begitu fasih dalam menjelaskan kesuksesan mereka.

Sebagai bangsa, kita memang diajarkan untuk rendah hati. Namun, kita harus berani mengungkapkan keberhasilan, paling tidak untuk membesarkan hati saudara setanah-air.

Selanjutnya, supaya bisa melakukan sesuatu saat mendengar publikasi negatif atas Indonesia, paling tidak kita mula-mula harus siap tidak cepat tersudut atas pemberitaan buruk tentang negara tercinta. Ada baiknya Anda mengecek situs-situs pemerintah ditambah pengetahuan umum lainnya supaya bisa mengkaji ulang kebenaran berita negatif tersebut.

Sekarang, maukah Anda mengunjungi situs citarum.org, yang dibuat oleh Balai Besar Wilayah Sungai Citarum? Ingat, pajak Anda yang membuat situs ini ada. :?)





*Apakah penempatan foto-foto tersebut melanggar hak cipta?