Tuesday, September 7, 2010

Gaji Cukup Ternyata Lebih Mudah Bahagia

Apa Anda Bahagia?
Sumber: Wikipedia

Boleh saja uang dianggap bukan segalanya, namun kekurangan harta memiliki peran besar untuk membuat seseorang merasa tidak puas dengan prestasi hidupnya. Uang dan rasa bahagia, tidak bisa saling ditukar satu sama lain.

Orang miskin punya beban lebih banyak, orang kaya lebih mudah bahagia. Itulah hasil penelitian empirik seorang ahli psikolog yang juga pemenang Nobel bidang ekonomi, Prof. Daniel Kahneman, bersama rekannya Prof. Angus Deaton dari Universitas Princeton, Amerika Serikat.

Orang akan bertambah mudah merasa bahagia bila memiliki penghasilan pertahun sebesar US$ 75.000. Tingkatan pendapatan tersebut dimiliki hanya kurang dari separuh populasi warga Amerika Serikat.

Tidak main-main, mereka mengambil data dengan mensurvei 450.000 orang, dalam rentang waktu 2008 hingga 2009. Pengumpulan data ini dilaksanakan berkat kerjasama dengan lembaga survei terkemuka The Gallup Organization dan perusahaan kesehatan raksaksa Healthways Corporation.

Kepada para responden, periset menanyakan tiga hal sederhana: berapa pendapatannya; bagaimana perasaan hati mereka saat mengingat hari kemarin (bahagia, sedih, atau stress); dan di mana jenjang posisi diri sekarang bila membayangkan cita-cita terletak di tingkat 10.

Hasilnya sungguh menarik. Data menunjukkan bahwa rasio tingkat kepuasan akan bertambah setaraf dengan meningkatnya penghasilan.

Jadi, tingkat kenaikan rasa puas hati orang yang mengalami penambahan pendapatan 2 ribu saat mula-mula memiliki gaji 20 ribu, akan sama nilainya dengan mereka yang menikmati kenaikan pendapatan 4 ribu saat gajinya 40 ribu. Bagi mereka, membesarnya pundi-pundi sama dengan menanjaknya prestasi hidup.

Fenomena efek tersebut akan berhenti saat seseorang memiliki pendapatan 75.000 dollar. Setelah memiliki penghasilan sebesar itu, rasa kepuasan hati kalangan ini lebih ditentukan pada hal-hal lain di luar materi, seperti mood, dan masalah hidup lainnya.

Namun sebaliknya, bagi kalangan lebih miskin, tekanan hidup pun akan meningkat lebih tajam seiring dengan menurunnya pendapatan. Karena selain kalangan berpenghasilan rendah dapat mengalami kondisi-kondisi tak menyenangkan (sakit badani, patah hati, dan lainnya), mereka juga bertambah merasa tak puas dengan prestasi hidupnya.

Prof. Kahneman dan Prof. Deaton pun berpesan, "Pendapatan besar tak membuat kita bahagia, namun uang banyak bisa membuat kita berpikir sudah memiliki hidup yang baik".

Penelitian ini diterbitkan pada 04 September 2010, oleh National Academy of Sciences, Amerika Serikat.

Untuk refleksi orang Indonesia: 
Menurut data Gallup di dalam 150 negara, orang Amerika memang merasa cukup puas dengan pencapaian cita-cita -- mereka berada di posisi kesembilan di bawah Swiss dan Selandia Baru. Orang Amerika juga termasuk bahagia dan bisa menikmati hidup, berada di posisi kelima di dunia. Tapi, ternyata warga Amerika Serikat menduduki posisi kelima terburuk dalam hal merasa menderita karena stress. Jadi secara umum, mereka lebih merasa cukup sejahtera dan merasa mengalami tekanan hidup lebih pada hal di luar materi. :?)