Saturday, September 4, 2010

Iptek Kaya di China

Wen Jiabao, Perdana Menteri China
Sebagai negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia, China barangkali tidak punya proporsi anggaran dan iptek yang nilainya sebanyak Amerika dan Uni Eropa. Namun sekarang negara yang dulu dikenal sebagai "Tirai Bambu" ini sudah memiliki jumlah periset fisika terbanyak lebih banyak dibanding Amerika Serikat.

Di era Mao Zedong, para periset dipandang dengan mata curiga, namun Zhou Enlai pernah memberikan catatan ke Kongres bahwa iptek punya posisi lebih penting dibanding sektor pertanian, industri, bahkan pertahanan nasional sekalipun. Biarpun para peneliti "dibuang" ke berbagai pelosok negeri untuk menjadi petani, selama revolusi industri China berhasil mengembangkan satelit dan meledakkan bom hidrogen secara mandiri -- tanpa bantuan Uni Sovyet.

Penerus Zhou, Jian Zemin dan Hu Jintao tetap meletakkan iptek sebagai pendorong ekonomi, dan menargetkan porsi riset sebagai litbang sebagai sumber pertumbuhan ekonomi sebanyak 60% di tahun 2020. Sekarang, iptek telah berhasil menyumbangkan 23% dari seluruh produksi China.

Lenovo adalah salah satu lambang kejayaan ekonomi iptek China. Pada 1984, sebanyak 11 peneliti Akademi Ilmu Pengetahuan China mendirikan perusahaan komputer bernama "Lianxiang" yang berkembang hingga mampu membeli seluruh divisi manufaktur PC IBM, dan kemudian dinamakan Lenovo. ZTE, perusahaan manufaktur telekomunikasi ternama, juga dibangun dengan modal dari lembaga pemerintah, yaitu Kementerian Antariksa China.

Di era sekarang, pengembang teknologi China sudah berasal dari sektor swasta. Suntech, perusahaan terkemuka dalam industri pembangkit listrik tenaga surya, dibangun oleh pengusaha yang mencari modal dari para investor.

Kepada media barat, Perdana Menteri Wen Jiabao mengatakan terang-terangan ingin menghindari kebiasaan ekonomi praktis yang menghindari litbang ilmu dasar. Katanya, "Saya percaya bahwa riset ilmu dasar memiliki daya dorong dan nilai sumber lebih besar dibanding penelitian terapan maupun pengembangan." :?)