Tuesday, September 7, 2010

Riset: Alasan Kita Anti Batik "Palsu" (dan Tak Suka Pembajak)

Batik Parang Barong Bintang
Sumber: www.batik.go.id
Ketika desain batik asing diberitakan beredar di berbagai daerah, banyak orang Indonesia merasa terganggu karena memiliki produk budaya kain itu. Berkat penelitian psikologi Dr Paulus Bloom dari Universitas Yale, Amerika Serikat, dan Profesor Bruce Hood dari Universitas Bristol, kita sekarang bisa melihat bahwa rupanya rasa ketidaknyamanan tersebut wajar saja.

Kedua peneliti ini menjukkan hal ini dengan memperlihatkan bahwa bahkan sekelompok anak berusia 3-6 tahun sudah memiliki preferensi atas barang yang mereka sayangi di atas duplikatnya -- bahkan bila berbentuk sangat identik sekalipun. Yang asli tak tergantikan.

Dalam eksperimenya, kedua periset ini mula-mula memperkenalkan anak-anak pada suatu "kotak", yang bisa mengkopi berbagai barang secara ajaib. Padahal, kemampuan kotak itu sebetulnya adalah trik biasa yang sudah dipersiapkan sebelumnya.

Kiri: Palsu, Kanan: Aseli
Pilih Mana?
Sumber: www.knowabouthealth.com
Profesor Hood berkata, "Ketika menawarkan pilihan asli dan salinan, anak-anak tidak menunjukkan ekspresi preferensi untuk duplikat dari mainan mereka. Kecuali, bilamana obyek yang akan disalin termasuk khusus, yaitu yang mereka ambil setiap akan tidur di malam hari. Seperempat anak-anak menolak untuk mengkopi obyek favorit mereka sama sekali. Bahkan sebagian besar mereka yang dibujuk untuk menempatkan mainan mereka di mesin penyalin, ingin agar barang-barang tersebut kembali menjadi asli."

Hasil studi "kotak" tadi menunjukkan bahwa di samping perhatian pada kondisi fisik mainan, anak-anak rupanya percaya bahwa ada benda-benda tersebut memiliki karakteristik atau esensi tersendiri yang sebetulnya tidak dapat disalin secara fisik.

Preferensi terhadap terhadap properti unik ini juga diterapkan untuk obyek milik orang-orang terkenal. Hood dan Bloom menempatkan sebuah logam pada mesin pengkopi sembari mengatakan pada anak-anak bahwa benda tersebut  punya nilai khusus, entah karena terbuat dari logam mulia atau karena pernah dimiliki Ratu Inggris, Elizabeth II.

Anak-anak rupanya menilai bahwa barang logam mulia yang tak memiliki sejarah akan mempunyai nilai sama dengan imitasinya. Namun, barang milik Ratu Inggris mempunyai nilai lebih tinggi dibanding kopinya.

Hood dan Bloom menyamakan alasan sebagai musabab cara pandang kaum dewasa tentang 'esensi' di mana kita berpikir tentang suatu sifat yang mendiami berbagai obyek sehingga membuat mereka seolah-olah mempunyai karakter nyata.

Kurang lebih dengan demikian, saat kita melihat batik maka yang sebetulnya terlintas di benak adalah kerja keras para pengerajin sewaktu mengerjakan kain tersebut, berikut sejarah seni budanya. Pengetahuan kita tentang esensi sejarah pembuatan batik-lah yang menyebabkan rasa jengah kala melihat imitasi terhadap kain tersebut.

Namun belum berhenti di situ. Pelajaran lainnya yang patut kita waspadai adalah bila kita tertangkap sering membajak karya orang lain, bagaimanapun kualitas tiruannya, kesan memiliki martabat lebih rendah tetap akan melekat terhadap diri kita. :?)