Tuesday, September 28, 2010

Tak Ada Inovasi Pada Laporan Freeport

Screenshot, Situs PTFI
(Klik gambar untuk mengakses situs PTFI)


Di dalam laporan tahunannya, Freeport membanggakan betapa suksesnya operasi mereka di Grasberg, tambang mineral emas-tembaga terbesar di dunia yang berada di Indonesia, menghasilkan prestasi tinggi di atas target dan menghasilkan keuntungan selama bertahun-tahun. Mereka mengatakan:


    We exceeded our production targets for both copper and gold and achieved significant reductions in our cost structure
    Our Grasberg operations in Indonesia, one of the world’s largest and best performing copper and gold mines, once again demonstrated its strength — achieving multiple operating and financial records. (hal 3)


Banyak kegiatan teknik yang Freeport rencanakan di tahun kemuka. Perusahaan ini telah memiliki perjanjian  dengan pemerintah Indonesia sejak 1968, dan kontrak yang ada akan berakhir pada 2021. Masih lewat laporan tahunan Freeport, kita bisa membaca proporsi keuntungan bagi Indonesia sesuai dengan ketentuan kesepakatan pada isi kontrak kerja:


    The copper royalty rate payable by PT Freeport Indonesia under its Contract of Work varies from 1.5% of copper net revenue at a copper price of $0.9 or less per  pound to 3.5 percent at a copper price of $1.10 or more per pound. The Contract of Work royalty rate for gold and silver sales is 1.0%.  (Hal. 92)


Freeport sendiri pada 2009 sendiri sudah mengambil 635.029 kg tembaga Indonesia senilai sekitar Rp. 15T, dan emas sebanyak 70.873,8 kg seharga kurang lebih Rp. 634 milyar. Kalau dihitung secara kasar, kita bisa melihat ketentuan proporsi pembagian tadi, artinya dari eksplorasi tembaga Freeport pada 2009 kita mendapat sekitar Rp. 530 milyar (sangat tak cukup untuk membangun monorail di Jakarta yang perlu dana 6 triliun).


    For 2009, consolidated sales from FCX’s Indonesia operations totaled 1.4 billion pounds of copper at an average realized price of $2.65 per pound and 2.5 million ounces of gold at an average realized price of $994 per ounce. (Hal 9).


    Meskipun sangat aktif, sayangnya, tak seperti perusahaan swasta BYD (China), HTC (Taiwan), apalagi Apple, dan Google, isi laporan Freeport tak penuh dengan gairah terhadap penelitian dan pengembangan teknologi. Kontradiksi dengan laporan Freeport, masing-masing perusahaan tadi mengakui menaruh dana sampai triliunan rupiah pertahun untuk pengembangan inovasi.

    Laporan Freeport sekalipun tak menyebutkan "innovate" atau "innovation", khas semangat zaman sekarang -- bahkan "technology" hanya disebutkan sekali. Bisa dibayangkan bagaimana sebetulnya pengaruh mereka bagi daya inovasi di Indonesia yang tentunya bisa jauh lebih ditingkatkan.

    Mungkin, karena tak perlu kreativitas tinggi untuk menambang... toh tunggal keruk saja? :?)