Wednesday, October 13, 2010

Mengajarkan Jiwa Indonesia Lewat Animasi


Animasi Senangs, Dibuat oleh Senangs di xtranormal.com





Otak manusia punya kemampuan luar biasa mengenali wajah manusia. Seperti diungkapkan baru-baru ini oleh ilmuwan sibernetika Institut Max Planck otak manusia bahkan merekam gerak-gerik wajah manusia lebih cepat dibanding teknologi pindai (scanner) paling canggih sekalipun.

Peneliti juga tahu bahwa kemampuan mengenali ekspresi wajah sangat penting, kelangsungan hidup kita bergantung daripadanya. Sedemikian pentingnya, sampai otak kita  sejak lahir mengembangkan kemampuan mencerna makna ekspresi wajah secara sangat kompleks

Itu sebabnya, sewaktu menonton suatu film drama atau laga, kita merasa apa yang kita saksikan adalah pengalaman rasa milik orang lain, bukan punya sendiri. Canggih dalam menilai gerak-gerik air muka justru membuat kita sulit menghindari pikiran bahwa segala kisah tayangan tak terpaut langsung dengan kita.

Berbeda dengan cerita animasi. Setiap tokoh di dalamnya dibuat punya bahasa tubuh seperti orang biasa, dan boleh dibilang selalu meminjam cuplikan ekspresi wajah manusia.

CC, Karakter Astro Boy
Bantu Jepang Lewati Luka
Masa Pasca Perang Dunia II
(Klik gambar untuk melihat
artikel terkait di Wikipedia)
Para peneliti paham kita bisa menangkap pancaran emosi universal wajah karakter tokoh animasi yang tak terlalu realistik jauh lebih mudah dibanding film biasa. Biarpun ras dan budaya punya pengaruh dalam cara kita berekspresi, namun raut muka tertentu bisa menunjukkan ciri-ciri emosi mendasar (sedih, marah, senang, dan lainnya).

Itulah sebabnya, nilai dan moralitas cerita animasi tak jarang jauh lebih mudah meresap dibanding film drama atau yang beraksi laga sekalipun. Keterbatasan manusia merekayasa ekspresi wajah manusia masih sudah lama jadi kekuatan film animasi untuk menyebarkan pesan moral kepada masyarakat.

Di Jepang misalnya. Masyarakat Jepang mengakui bahwa tokoh Astro Boy yang punya kekuatan atom pernah membesarkan hati para warga Jepang kala baru kalah di Perang Dunia II. Mereka dibuat yakin, mereka sanggup menguasai teknologi yang meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki, menjerumuskan Jepang dalam kesulitan besar-besaran.

Film animasi juga jadi sumber kritik. Kekerasan kemanusiaan di dalam puluhan film animasi (termasuk Bambi) pernah menjadi topik kritik Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Harvard, karena membiasakan anak dengan tingkah laku menyimpang.

CC, Animasi Rambut
Karya Universitas Cornell
(Klik gambar untuk melihat
videonya di Youtube)
Industri dan peneliti berbagai bidang memang bermimpi, suatu saat nanti animasi bisa betul-betul menggantikan kehadiran manusia dalam film. Tahu besarnya pengaruh animasi, industri pun berinvestasi besar-besaran pada litbang komputasi dan teknik pengambilan gambar animasi demi membesarkan daya nilai estika visualisasi realistik film jenis ini.

Seperti rambut manusia atau manusia, yang sudah makin terlihat lembut lemas dan indah bercahya. Bukan karena sampo baru, namun karena pengembangan teknologi animasi rambut oleh kelompok pengembang animasi di jurusan komputer Universitas Cornell sejak beberapa tahun lalu.

Industri animasi pun juga menjungkitkan ekonomi negara industri baru. Seperti di India. Mereka baru mengumumkan perhitungan bahwa negara ini yakin akan mengalami kenaikan nilai industri animasi lebih dari Rp. 15 triliun pada tahun 2012.

Animasi di Indonesia juga punya berkembang lewat lintas bidang, terhubung antara pengembang litbang dan pengusaha. Di Asosiasi Industri Animasi dan Konten Indonesia, para anggotanya punya berbagai bidang keahlian, yang bekerjasama untuk membuat, membangun, dan akhirnya menyuguhkan tayangan animasi bagi kita.

Sekarang kita bisa paham bahwa impian Peni Cameron, pengusaha animasi Indonesia, sebetulnya tak hanya luar biasa namun sangat masuk akal. Katanya, ia punya cita-citanya ingin membangun budaya lokal lewat animasi dan membuat Indonesia eksis di mata dunia.

Membuat animasi khas Indonesia, artinya mengajarkan dunia untuk mengerti jiwa kita.