Sunday, October 10, 2010

Riset Iklan Termenarik Bagi Otak

Iklan Layanan Masyarakat dari India, Tentang Anti Rokok Produksi Ogilvy & Mather (India)
Pesannya? Sang kakek tahu kalu si orang muda akan lebih cepat meninggal 
karena merokok




CC, Iklan Jepang
Lucu, Tak Bisa Ditiru
(Klik foto untuk
menonton iklan
itu di Youtube)
Memproduksi tayangan iklan memang mahal. Iklan dengan bintang terkenal, ide cerita, gambar mantap, musik keren, semua bisa gagal mempengaruhi penonton agar percaya pada produk atau konsep pesan kemasyarakatan di dalamnya.

Mencontek ide iklan bagus dari luar negeri yang sukses sekalipun tak bisa lantas jadi ide brilian. Iklan lucu dari Jepang yang sukses besar di dunia, akan sangat janggal bila mentah-mentah diterapkan di Indonesia. Pasalnya? Kita tak punya budaya dan selera humor sama.

Ada pula produk yang gagal memperhatikan detil gambar. Contohnya di iklan makanan ini (hati-hati, Anda bisa kehilangan selera melihatnya), yang malah tercatat memancing cemooh masyarakat di forum diskusi dunia maya, biarpun publik Indonesia tetap berkeras mengakui kelezatan produk favorit nasional tersebut.

Untuk meyakinkan tayangan iklan bakal menerima respon positif, para produser sekarang mulai menguji bagaimana suatu pesan video iklan mempengaruhi otak kita. Industri iklan bisa melakukan tes semacam ini sebelum pariwara tersebut dilempar ke pasar.

Para ahli neurologi paham kalau otak manusia akan memberikan respon spesifik terhadap pesan sosial. Pasalnya, secara bawah sadar otak kita selalu waspada untuk mengupayakan diri selalu diterima masyarakat.

Termasuk dari iklan, otak manusia tahu pentingnya menseleksi semua pesan yang membuat mereka bisa punya eksistensi. Jika kita terisolasi karena ogah beradaptasi, pada akhirnya hidup sengsara dan nyawa taruhannya.

Screenshot, Video Wawancara
dengan Elissa Moses, CAO Emsense
(Klik foto untuk melihat
interviu tersebut di Youtube)
Demi mengetahui prinsip otak tersebut, sebuah perusahaan baru mencoba mengaplikasikan pengetahuan neurologi ini dalam riset market. Nama perusahaan tersebut adalah Emsense, didirikan oleh tujuh mahasiswa Massachusetts Institute of Technology (MIT) pada tahun 2004 di San Francisco, Amerika Serikat.

Emsense membuat alat yang mampu mengukur reaksi syaraf seseorang secara langsung tanpa harus mendapat pertanyaan dahulu. Alat ciptaan Emsense mencitrakan bagaimana reaksi otak manusia waktu melihat iklan, pengepakan fisik, tayangan internet, dan game komputer.

Enak dikenakan, kinerja alat yang dinamakan sebagai EmBand™ dan EmBand 24™ ini tak mudah diganggu rambut kepala manusia. Data yang dikumpulkannya pun semakin tajam, menggambarkan reaksi otak sesungguhnya.

Screenshot, www.emsense.com
Berbagai Kumpulan Data Emsense
(Klik gambar untuk
melihat laman aslinya)
Hebatnya, tes reaksi otak semacam ini tak bisa dibohongi, seperti misalnya yang bisa muncul lewat teknik survei biasa. Inovasi uji reaksi otak terhadap iklan akan lebih efesien, mengurangi resiko dampak kerugian kalau ternyata publik tak suka tayangan pariwara yang dibuat.

Alat Emsense dapat merekam sampai 20.000 pesan emosi baik atau buruk. Datanya bisa dianalisis untuk menciptakan iklan, kemasan, dan konsep produk paling menunjang pengetahuan tentang keberlanjutan minat masyarakat terhadap suatu barang atau jasa.

Mengantongi lebih dari 50000 data respon otak manusia, Emsense sudah menganalisis 225 ribu iklan TV berikut pengetahuan reaksi ragam produk lainnya. Hidup dari pengetahuan, Emsense memiliki berbagai rekanan lembaga riset produk yang menyelidiki bagaimana cara paling efektif untuk mendekati pasar: lewat otak mereka.

Jika memiliki teman kerja dari bidang neurologi dan analisis komputer, Anda bisa mengembangkan teknologi semacam yang dimiliki Emsense. Demi mendapat perlindungan negara, jangan lupa untuk mendaftarkan pengetahuan rahasia yang sudah Anda kembangkan nantinya di Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (Ditjen HKI).

Lalu, video terakhir ini adalah contoh tayangan iklan yang berhasil Emsense temukan malah memberikan reaksi negatif, membingungkan, bagi para pemirsanya. Penonton tak mengerti bahwa pariwara tersebut sebetulnya berisikan komedi tentang inovasi:  








:?)