Sunday, December 26, 2010

"Copas" (Copy-Paste) Aset Copyright

Tayangan Kartun World Intellectual Property Organisation (WIPO) tentang Hak Kekayaan Intelektual (HKI)



Kadangkala kita tetap membutuhkan para perintis hebat untuk mempertontonkan berbagai ketidakpatutan serius di dalam masyarakat, terutama dalam pelbagai kebiasaan salah yang sudah dianggap luas sebagai hal lumrah. Contoh para pelopor itu adalah Menar Rizzie dan Maria Tambunan, keduanya mahasiswi Universitas Indonesia (UI), yang mengangkat isu menjiplak "copy-paste", populer disingkat sebagai "copas".

Beberapa pembaca artikel kedua perintis di situs tekno.kompas.com menyindir semangat mereka, mengolok-olok dengan bersembunyi dalam identitas anonim alias tak bisa dilacak. Patut disayangkan, karena liputan itu menyiratkan jerih-payah Rizzie dan Tambunan untuk mengurangi kebiasaan bertindak curang.

World Intellectual Property Organisation (WIPO) tentu akan mengacungkan jempol bagi upaya para mahasiswi bernyali tadi. WIPO sendiri mengupayakan mendidik masyarakat dunia tentang pentingnya Hak Kekayaan Intelektual (HKI) termasuk untuk memperhatikan cara terpuji dalam meng-copy sesuatu.

Misalnya lewat video animasi "Copyright", yang WIPO sebarluaskan lewat jaringan Youtube. Tayangan animasi ini menjelaskan bahwa copyright tak lain adalah hak ekslusif seorang pencipta musik atau penulis untuk mengelola, termasuk mencegah orang lain meng-copy hasil karyanya.

Kita barangkali akan lebih mudah menangkap makna kata "hak cipta" dalam Bahasa Inggris (yaitu "copyright"), yang menggunakan kata "copy" untuk menjelaskan kewenangan seseorang membatasi orang lain untuk menyalin hasil kerjanya. Copas dengan sembrono berarti membunuh daya cipta dan merendahkan jerih payah pencipta, bahkan mencuri hak milik orang lain mencari nafkah lewat karya ciptanya.

Bagi para peneliti -- juga untuk seniman dan kaum kreatif -- kepemilikan hak cipta lewat tulisan ilmiah  atau karya unik adalah jalan membangun reputasi dan mengapresiasi sumbangsih profesional lain lewat ciptaannya. Suatu kegiatan intelektual harus menjunjung nilai hak cipta paling tidak dengan selalu menyebutkan referensi yang jelas atas ide-ide penting di dalam suatu karya ilmiah.

Tidak hanya bagi kalangan khusus, aset copyright bisa dibangun dan dimiliki oleh tiap warga negara. Setiap orang Indonesia secara pribadi maupun kelompok bisa menciptakan dan memiliki hak ekslusif mengelola hasil karyanya.

WIPO menerangkan bahwa hak cipta dapat diperdagangkan, layaknya komoditas barang. Hampir seperti layaknya kepemilikan barang, undang-undang kita mengatur bahwa hak cipta dapat diwariskan.

Kekayaan ciptaan budaya budaya tradisional secara hukum adalah milik negara, dan undang-undang juga mengatur agar semua warga negara bisa mengelola produk budaya nasional. Ini artinya, pihak asing tak bisa meng-copas aset budaya nasional dan mengeksploitasinya secara sembarangan.

Masih ingat betapa geramnya kita waktu hak cipta budaya dicuri negara tetangga? Jadi, pikir dua kali kalau mau meng-copas, jangan sampai Anda mencuri aset orang lain. :?)


Amir F. Manurung
(Australian Leadership Awards Fellow, QUT - Brisbane, Australia, untuk komersialisasi inovasi/HKI)



Iklan Layanan Kesadaran Hak Cipta di Australia

Iklan kocak ini menyebutkan bahwa 30% warga Australia secara tak sadar telah melanggar hak cipta  dan mengajak semua warga Negeri Kangguru berhati-hati untuk menghindari tindak pembajakan.