Sunday, November 21, 2010

Hak Cipta "Brady Bunch" Bukan Milik Penciptanya

Video Pembuka, "The Brady Bunch"



Masih ingat kasus royalti minim yang diterima oleh almarhum Mbah Surip? Di Amerika, penulis "the Brady Bunch" punya masalah pengelolaan hak cipta serupa.

The "Brady Bunch" pernah disiarkan di beberapa stasiun televisi swasta Indonesia. Sitkom keluarga harmonis tentang keluarga Brady ini sangat terkenal hingga di tanah air, seluruhnya berkat modal imajinasi cerita yang mendetail dan mendalam.

Tentu saja acara ini menghasilkan banyak uang, paling tidak karena dari penjualan lisensi siaran di seluruh dunia. Dalam suatu wawancara dengan Barry Williams, salah seorang aktor pemainnya, ia menyatakan masing-masing dari 119 episode serial "the Brady Bunch" disiarkan lebih dari 160 ribu kali(!), dihitung selama 35 tahun sejak kemunculannya.

Kesinambungan minat publik terhadap "the Brady Bunch" tentu menghasilkan keuntungan besar, yang konon nilainya sudah mendekati 10 triliun rupiah. Setelah puluhan tahun mendaur laba, terungkap yang meraup keuntungan paling besar ternyata bukanlah para pencipta siktom ini.



Rekaman Wawancara
dengan Lloyd J. Schwartz,
pencipta "The Brady Bunch"
tentang buku karangannya,
"Brady Brady Brady"
Adalah Lloyd J. Schwartz, yang turut membantu ayahnya Sherwood Schwartz, menciptakan karya fiksi komedi kesohor ini. Lloyd dan ayahnya menulis buku "Brady Brady Brady" untuk menceritakan hal-hal gelap di balik seluruh waktu tayangan manis "the Brady Bunch".

Lloyd Schwartz mengaku tak puas dengan acara itu, meskipun menyatakan tetap bangga dengan seluruh jerih-payah yang sudah pernah ia kerahkan. Pasalnya sederhana: karena mereka tak memiliki hak cipta atas "the Brady Bunch".

Ayah-anak Schwartz mengakui bahwa mereka telah menyerahkan seluruh hak cipta ke American Broadcasting Company (ABC), jaringan televisi yang membiayai produksi "the Brady Bunch". Menurut Lloyd Schwartz, ABC mengerahkan modal sebanyak US$ 14 juta, untuk membuat film seri tersebut -- belum terhitung biaya iklan, humas, siaran, distribusi, dan lain sebagainya.

Karena memiliki hak cipta, pihak ABC bebas untuk mengembangkan kreativitas untuk memanfaatkan nama tenar "the Brady Bunch". Setelah masa tayang film seri ini usai, masih banyak acara lain yang dibuat dengan topangan nama besar "the Brady Bunch", contohnya serial "Kelly's Kids" yang menceritakan tentang tetangga keluarga Brady.

ABC tak menggunakan 'jasa' ayah-anak Schwartz saat memproduksi pelbagai tayangan turunan "the Brady Bunch", karena mereka memiliki hak cipta atas tayangan tersebut. "The Brady Brides", misalnya, menggunakan tenaga penulis cerita lain. Bahkan Lloyd Schwartz mengaku bahwa ia pertamakali mengetahui kemunculan acara "the Brady Bunch Variety Hour" dari tabloid, bukan dari ABC.

Seorang penulis atau produsen media kreatif memang harus jeli melihat hasil kerjanya sendiri. Bila memanfaatkan bantuan penerbit atau perusahaan produksi, mereka harus jeli melihat isi kontrak dalam mengelola hak cipta karya mereka secara jangka panjang.

Karir menulis Lloyd J. Schwartz memang lebih fleksibel, kelanjutannya tak selalu tergantung dari "the Brady Bunch". Ia antara lain berhasil ikut menulis "the A-Team", dan "Baywatch", keduanya sangat terkenal di tanah air.

ABC atau lembaga publikasi/penerbit lain tentu tidak sekedar ingin membohongi para tenaga kreatif, karena merekalah yang membuat perusahaan-perusahaan ini menjadi besar. Perusahaan-perusahaan ini semata butuh melindungi aset HKI-nya supaya bisa membiayai seluruh rantai kegiatan produksi yang panjang dan mendiversifikasi produk kerjanya.

Sekarang sudah menjadi pekerjaan rumah bagi setiap penulis, fotografer, atau kalangan industri kreatif untuk belajar bisa melihat bagaimana mitra publikasi akan mengeksploitasi hak kekayaan intelektual mereka kelak. Kalau keberatan dengan syarat pengelolaan hak cipta yang diajukan oleh industri publikasi, tentu mereka bisa berpikir untuk mengusahakan aset HKI-nya secara mandiri.

Mau kaya lewat kreativitas? Ya, harus mau membangun strategi HKI.

[Baca: "Prof. McKaskill: Keunggulan Kompetitif Lewat Hak Kekayaan Intelektual"]. :?)






Saturday, November 6, 2010

"Thankyou Water", Merek Dagang Amal Remaja

Screenshot - situs Perusahaan Thankyou Water (http://www.thankyouwater.org/)
Klik foto untuk melihat situs Thankyou Water



Liputan "Thankyou Water"
di acara Sunrise On Seven, Australia
(September 2010).

Para remaja pendiri "Thankyou Water"
sama sekali tak mengambil keuntungan
dari penjualan air kemasan ini.
Ketika wartawan bertanya apakah Daniel Flynn pernah bermimpi bahwa hasil kerjanya sampai menyentuh jutaan orang, ia menjawab, "ya". Impian Flynn bukan perkara sembarangan, ia ingin mengajak warga Australia ikut membantu masyarakat di berbagai negara berkembang memiliki sumber air minum bersih.

Daniel Flynn bersama keempat rekannya Morgan Ranieri, Justine Hart, Jarryd Burns, dan Nicolette Beets mendirikan Thankyou Water, perusahaan air kemasan, yang 100% keuntungannya diberikan untuk membantu masyarakat di negara berkembang memiliki sumber air higienis. Sekawanan itu masih berusia remaja, dan tinggal di wilayah Victoria, Australia.

Pemerintah Australia terkenal dalam upaya memberikan yang terbaik demi seluruh masyarakat bebas dari masalah air higienis, hingga air ledeng (tap water) di sana bisa langsung diminum. Meskipun warga senantiasa turut mengawasi kualitas air ledeng, namun permintaan air kemasan di Australia tetap tinggi -- misalnya untuk keperluan restoran atau konsumsi lainnya.

Awalnya, kelima sekawan itu samasekali tak tahu bagaimana bisnis air kemasan bekerja. Kemudian mereka mencari banyak mentor bisnis, dan bertanya kepada banyak tokoh yang telah berhasil berkecimpung di industri air premium.

Setelah cukup punya pengetahuan,  dengan dukungan penasihat bisnis Bentleys Australia, kelima remaja ini pun mulai mendatangi langsung industri-industri besar air kemasan setempat. Tujuannya, mendapatkan donasi air botolan yang bisa dijual kembali.

Pentingnya Merek

Perhatikan, bila suatu botol air
tak diberikan merek
"Thankyou Water", maka ia tak
memiliki makna apapun.

(Kredit foto: kanan Todd Morris,
kiri Sunny Phlong)
Air botolan ini kemudian diberi merek "Thankyou Water". Merek ini memberi tanda kenal bagi masyarakat bahwa air kemasan tersebut dijual untuk keperluan amal dan menyebarkan pesan kemanusiaan.

Ada belasan perusahaan turut membantu membesarkan merek Thankyou Water. Mulai dari urusan desain dan percetakkan, pembuatan situs internet, distribusi, suplai botol daur ulang, sampai ke masalah pengisian air itu sendiri, dan kepentingan lainnya.

Dari sisi penyediaan modal, boleh dibilang, para remaja Thankyou Water hanya memberikan sumbangan ide. Seluruh semangat dan konsep ide kemanusiaan terekam dalam citra merek "Thankyou Water".

Banyak orang tak mengerti pentingnya merek. Padahal, tanpa merek Thankyou Water, konsumen akan lebih memilih berbagai produk air kemasan ternama yang saling bersaing menawarkan macam-macam keunggulan masing-masing.

Di Indonesia, suatu merek dagang dapat dilindungi negara, tepatnya melalui Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (Dirjen HKI). Setiap orang dapat mendaftarkan merek dagangnya, untuk mencegah pihak lain mencuri dan merusak citra produksi miliknya.

Dirjen HKI mengelola lebih dari 32 ribu permohonan pendaftaran baru bermacam merek, sepanjang Januari hingga Agustus 2010. Bila disetujui, Dirjen HKI akan mengumumkan merek tersebut sebagai milik eksklusif suatu badan usaha, yang tak dapat dipergunakan pihak lain.

Dengan memperhatikan cara mengelola merek, para pengusaha bisa mengelola reputasi dan ide produksinya. Dan belajar dari kelima remaja pengelola Thankyou Water ini, kita bisa tahu bahwa bahkan pengusaha yang berorientasi amal pun bisa mendapat kepercayaan dari mitra bisnis dan masyarakat luas.

Sudahkan Anda mengelola merek dagang Anda?





Thankyou Water Dari Stephen Johnson.

Wawancara dengan Daniel Flynn (tengah), Jarryd Burns (kanan), pendiri Thankyou Water

Kedua pendiri Thankyou Water ini bermimpi bisa membantu warga dua anak di seluruh dunia yang kehidupannya terancam karena tak memiliki akses ke air bersih. Demi mengetahui bahwa setiap tahunnya warga Australia menghabiskan sekitar Rp. 5 trilliun pertahun untuk membeli air kemasan, mereka melihat kesempatan menggunakan tingginya permintaan bagi komoditas tersebut dalam suatu sistem amal.

Flynn dan Burns bersama teman-temannya menciptakan bisnis nirlaba, menjual air kemasan bermerek Thankyou Water. Air "Thankyou Water" kini sudah dijual di ratusan gerai makanan di seluruh Australia, yang seluruh keuntungannya dikerahkan untuk membantu pembangunan infrastruktur air bersih di negara berkembang.

Merek ciptaan Flynn, Burns, dan kawan-kawan telah menggerakkan industri air botol turut membantu masyarakat bisa beramal.


:?)